60 Tahun Astra, Dari Perusahaan Mati Suri Jadi Bisnis Kelas Dunia

Mendengar nama Astra kini, kita tentu terbayang perusahaan importir kendaraan yang namanya sudah sangat populer di Indonesia. Bahkan, Astra termasuk dalam perusahaan bonafide dan dijadikan tempat kerja idaman bagi para jobseeker. Perjalanan Astra sendiri terbilang cukup panjang. Astra bermula dari perusahaan yang memiliki hak impor namun mati suri. Pertumbuhannya tak lepas dari Tjia Kian Liong alias William Soerjadjaja, yang membeli Astra pada tahun 1950. Nama perusahaan yang berkantor di Jl. Sabang Nomor 36A itu terinspirasi dari bahasa Yunani yang berarti terbang ke langit serta menjadi bintang terang. Nama lengkap dari perusahaan ialah Astra International Inc dan logonya berupa bola dunia dengan diembeli pita bertuliskan Astra.

Perjalanan 60 Tahun Astra di Indonesia

Di awal berdirinya, Astra tak lantas menjadi usaha produksi kendaraan bermotor. Perusahaan yang didirikan dengan modal Rp2.5 juta dan selama 10 tahun pertama hanya memiliki 5 karyawan ini awalnya hanya sebatas usaha limun, minuman botol yang dulu sempat terkenal. Selain itu, Astra juga sempat mendistribusikan produk lokal seperti pasta gigi Odol Dent serta Fresh O Dent. Bisnis lain yang mereka jalankan ialah pengiriman fosfat aluminium, bohlam lampu serta ekspor minyak goreng dan kopra. Pada 1961, Astra memasuki babak baru dengan menjadi pemasok lokal untuk proyek pembangunan waduk Jatiluhur. Memasuki tahun 1965, Astra mengalami masa sulit terkait kondisi perekonomian Indonesia yang tengah terpuruk.
Di tengah krisis ekonomi, Wiliam Soerjadjaja memindahkan kantor Astra ke Jl. Juanda III. Setahun berselang, kondisi perekonomian telah mulai membaik. Astra bahkan menjadi importir untuk 80 ribu ton aspal Marubeni Jepang guna pembangunan jalan. Astra juga mendapat pinjaman sebesar US$2,9 juta dari USAID. Dana ini memungkinkan Astra untuk mengimpor aneka barang termasuk truk dari Amerika. William kemudian melakukan impor hingga 800 unit truk merk Chevrolet dari General Motor Co dan menjualnya pada pemerintah. Sayang, usaha ini tak berjalan lama karena William dianggap tak memahami ketentuan USAID.
Tidak lagi mengimpor truk dari Amerika, William mulai melirik pasar Jepang. Pada 1969, William mulai memikirkan untuk mengimpor truk merk Toyota. Toyota segera menjadi mitra penting Astra dan truk-truk Toyota mulai membanjiri areal proyek serta kawasan industri di Indonesia. Tidak hanya truk, pada 1971 pasca Amerika tak lagi memproduksi truk serta jeep stir kanan, Astra menguasai pasar tersebut di Indonesia. Astra kian berjaya karena tak sekedar menggandeng merk Toyota namun juga Honda, Daihatsu, Isuzu dan lain-lain. Bisnis William kian merambah aneka bidang dan tidak hanya otomotif semata.

Jatuh Bangun Astra dan Sumbangsihnya Bagi Indonesia

Pada Desember 1992, bank yang dimiliki putra William dilikuidasi pemerintah dan kredit macetnya mencapai Rp1.2 triliun. Demi membantu sang putra, William melepas semua sahamya di Astra. Kini, sebanyak 51,11% saham Astra dikuasai Jardine Cycle & Carriage Limited, perusahaan yang berbasis di Singapura. Sisa saham dimiliki oleh masyarakat. Walau nama William tak lagi tercatat dalam daftar pemilik, namun siapapun akan mengingat bahwa Astra dibangun dari keringatnya. Perjalanan 60 tahun Astra yang penuh jatuh bangun tentu memberikan sumbangsih besar bagi Indonesia. Astra terutama berperan dalam pembangunan ekonomi Indonesia sebagai importir kendaraan berat dalam proyek konstruksi serta kendaraan untuk sehari-hari. Peran Astra terbilang besar terutama dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi serta teknologi di tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *