Ikut Menanggapi Persoalan Sari Roti

Kamis, 8 Desember 2016

Sebenarnya saya tidak ingin ikut ikutan membahas hal ini, karena disamping memang hal tersebut bukan bidang saya, saya tidak ingin terlibat dengan hal hal konflik. Namun entah kenapa, hati ini ingin berbicara tentang hal yang sedang naik daun di kalangan masyarakat.

Pada tanggal 2/12/2016, ada aksi super damai yang bertempat di Monas, Jakarta, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Hal tersebut dilakukan lantaran pihak yang berwajib dirasa lambat dalam menangani dugaan kasus penistaan agama oleh Gubernur Jakarta non-aktif, Basuki Tjahya Purnama.

Namun bukan hal itu yang menjadi sorotan saya. Yang menjadi bahasan saya adalah dalam aksi super damai tersebut ada penjual Sari Roti keliling (hawker tricycle) yang menggratiskan untuk para peserta aksi super damai yang dilakukan kemarin. Sekilas memang tidak ada masalah, namun pihak perusahaan dari Sari Roti, membuat Pengumuman bahwasannya pihak Sari Roti sendiri tidak terlibat dalam semua kegiatan politik. Namun perlu digaris bawahi bahwa pihak Sari Roti mengapresiasi keguatan Aksi Super Damai 212.

Nah, atas pengumuman yang dibuat oleh pihak Sari Roti ini, ada beberapa orang yang mencela kebijakan dari pihak Sari Roti ini. Mereka kecewa karena mereka merasa pihak Sari Roti tidak mendukung aksi 212. Dan lebih parahnya lagi ada sebagian orang yang memposting foto dengan gambar, menginjak sari roti, membuang sari roti, dan lain sebagainya yang inti tujuannya ‘menghina’ pihak Sari Roti yang dirasa tidak mendukung aksi penggratisan sari roti. Dan imbasnya, omzet Sari Roti menurun pesat.

Saya tidak ingin membahas omzet Sari Roti yang terjun bebas. Yang saya sayangkan adalah adanya beberapa gelintir orang yang menghina bahkan membuang makanan seperti itu. Seperti kita tahu bahwasannya membuang makanan adalah perbuatan tercela. Karena membuang makanan sama saja dengan pemborosan harta. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27)

Masih banyak saudara kita yang belum bisa menikmati makanan sehat, lantas kenapa kita malah membuang – buangnya? Bukankah lebih baik bila kita mensedekahkannya? Kenapa kita harus bersikap seperti itu. Saya hanya memikirkan hal tersebut.

Disini saya bukannya mau membela pihak Sari Roti, bukan seperti itu. Saya saja ndak pernah membeli Sari Roti (karena harganya yang relatif kalangan atas. Hiks hiks). Tapi disini saya hanya ingin mengingatkan bagi para kaum muslimin untuk menjaga lisan dan perbuatan kita. Karena pada dasarnya kaum muslim seharusnya menjaga lisaan. Karena bila tidak dijaga dan dikendalikan, lisan kita bisa jadi menjadi bumerang bagi kita kelak di akhirat.

Mungkin itu dulu yang dapat saya sampaikan. Sungguh bukannya saya ingin membela, saya hanya ingin mengingatkan saudaraku yang jauh disana. Saya mengkhawatirkan bila lisan kita kelak bukannya menjadikan kita masuk surga , namun justru menjadikan kita masuk neraka. Naudzubillah. Wallahua’lam.

 

Referensi:

https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *