Tidaklah Allah Menetapkan Sesuatu, Kecuali Terdapat Hikmah Didalamnya


Tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali terdapat hikmah didalamnya

Dulu, saya punya kajian di Bandara, International Airport Soekarno-Hatta. Padahal saya sudah pindah ke Bekasi, jarak yang terbentang cukup jauh. Beda dengan dulu waktu masih di Pamulang.

Kemudian ketika saya punya kajian di waktu pagi, diwaktu pra-duha, selalu selesai sekitar jam 9. Dari jam set8 sampai jam 9.

Kemudian selesai, saya langsung pergi ke terminal damri untuk naik ke bus.

Qodarullah karena suatu waktu, karena banyaknya pertanyaan jamaah, kemudian sampai melewati batasan waktu yang biasanya saya lakukan

Kemudian diperjalanan naik motor (menuju terminal damri), ibu tau apa doa yang saya panjatkan kepada Allah? Doa yang saya panjatkan kepada Allah cuma satu ‘Ya Allah semoga saya ketemu dengan bus damri yang sudah penuh dengan penumpangnya, dan tinggal naik, kemudian tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu diterminal’

Sederhana kan? Apapun kan kita memang disuruh untuk meminta kepada Allah, sampe tali sandal kita yang putus aja minta gantinya kepada Allah.

Ternyata betul, saya dikabulkan oleh Allah. Setelah turun dari Ojek, Saya ketemu dengan bus damri sudah penuh dilampu merah ketika mau belok ke Tol. Allhamdulilah banget

Allah Ya Kareem Ya Rohman. Permohonan saya dikabulkan. Ketika saya turun dari ojek, saya ngetu (pintu) bus nya, Ibu tau? Memang penuh, tapi betul betul penuh. Saya tidak bisa naik. Terus saya berfikir mungkin saya salah doa ini.

Jadi betul betul penuh, saya ketok itu bus nya dan berkata:

‘Pak saya ada kajian pak dhuhur di Garuda’
‘Iya saya tau pak tapi ini penuh, kalau bapak berdiri, saya yang akan kena sanksi’
‘Satu aja pak gakpapa’
‘Pak ini tuh bus terminal, bus airport, Gak ada yang turun ditengah jalan, gak ada. Bukan masalah bapak berdiri, saya yakin bapak kuat, tapi saya yang akan kena sanksi’

Masyaallah, Yasudah akhirnya, saya tidak mendapatkan bus yang sesuai dengan jam yang saya tentukan. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.10

Yasudah akhirnya, dengan lemes saya pergi ke terminal damri. Tentunya karena bus yang baru pergi, kemudian bus yang lama baru membuka pintu. Sudah naik, sudah lemes saya.

Sudah merambat sampe 10.30. Jam 10.30 baru penuh, baru jalan. Saya sudah pasrah, saya sudah Whatsapp ke pihak panitia kajian.

‘Kelihatannya agak telat akhi, mungkin juga gak nyampe sampe disana’
‘Gapapa ustadz, lanjutkan perjalanan, semoga ada hikmahnya’

Kemudian saya melanjutkan perjalanan. Tiba tiba sang sopir itu mendapatkan telfon. Karena di loudspeaker, saya denger karena saya duduknya dibelakang sopir.

‘Kamu lewat mana? Jangan lewat dalam kota ya. Kamu abnting aja ke tanjung priuk. Ini dalam kota macet’

Sudah kan, saya sudah ‘Waduh macet ini’

Dibanting ke tanjung priuk, Masyaallah, Demi Allah itu, dibanting ke tanjung priuk itu LANCAR SELANCAR-LANCARNYA.

Lancar… Sampe kenceng itu, damri itu kenceng. Sampe ternyata itu Qodarullah, sampe masuk ke area lokal Bandara jam berapa? yaitu adalah jam 11:50 saat itu. Masih mendekati dhuhur. Itu sudah mulai masuk bandara.

Lali kemudian ada telfon lagi, telfon yang kedua ngomong

‘Sudah sampe mana?’
‘Sudah sampe bandara. Kamu sampe mana?’
‘Saya masih di tol dalam kota’

Kemudian ditutup.

Saya yang tadi berusaha sempat menyesali bahwasannya kok gak dapet bus yang bisa ngaterin saya, kemudian saya coba nanya sama sopirnya.

‘Pak itu yang tadi nelpon sopir bus yang mana pak?’
‘Sopir bus yang sebelum saya pak’ (bus yang penuh tadi)

Ternyata masih ada didalam kota dia. Macet.

Kemudian saya itu, Masyaallah.

Kejadiannya remeh, hanya masalah ta’lim.

Tapi disitu saya mengambil hikmah yang sangat besar.

Kadang kadang kita itu diberikan sesuatu, kita itu tidak sabar untuk mengambil hikmah. Dan akhirnya ketika kita tidak sabar mengambil hikmah, disitulah hilang hikmah yang harusnya Allah berika kepada kita. Disebabkan apa? Disebabkan dosa kita yang tidak ridho terhadap takdir yang Allah tetapkan dan Allah berikan kepada kita.

Disadur dari ceramah Ust. Oemar Mita yang berjudul “Tersenyum di atas Puing-Puing Ujian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *